Advertisement

Main Ad

Dermaga Cinta


Dermaga kala itu.

Sesekali, aku rindu dermaga itu. yang didampingi oleh desiran air laut dan mengembuskan sepoi angin pantai hingga aku lupa tentang kerasnya hidup. Kita berikrar akan janji suci sembari menanti senja yang hendak mengkelalapkan cahaya. Ah, indah sekali. Namun sangat disayangkan kau melengahkan pandanganku kala itu. Bahwa aku sedang bersajak manis. Aku memohon kepada Sang Pencipta senja agar nantinya kaulah yang menjadi jawab disetiap doaku. Kuberharap bisa tetap menggenggam tanganmu sampai ajal menghampiri. Menopang badai disetiap hari.

Sudah terlalu benam janjimu dilubuk dasar hatiku. Selama ini masih saja pernak-pernik iktikadmu selalu berkunang disetiap malam heningku. Menemani dalam tidurku, dan menjagaku hingga terlelap dalam mimpi permai dengan balutan ucapanmu. Aku tak merasakan sedikitpun rasa sakit, namun bagiku hanya semacam tabokan manja darimu. Karena Aku belum sampai puncak membuatmu bahagia untuk tetap bahagia selamanya. Aku menyadari tentang hal itu. Andai kutahu segala yang terjadi pada akhirnya, mungkin tak seharusnya kau menebarkan lekat lesung senyummu lebar-lebar didalam hatiku. Jika berujung pada sebuah penantian kamuflase semata.          

Aku selalu berupaya berdamai dengan hal kala itu. Memendam serpihan janji-janji yang kau ingkari sendiri. Tapi sudah menjadi sebuah kenyataan waktu yang tak bisa kurenggut sepanjang ini. Sang waktu melejit begitu pesat. Hingga Aku terkapar sepi tanpa kau temani didasar bumi. Selayaknya bintang kau berada diatas dan tak lupa untuk kembali bersinar berseri bersama bintang lainnya. Sementara aku masih berada dalam terkapan binatang buas di Bumi ini. Menghadapi kerasnya hidup tanpa ada sesok penyemangat disetiap hari-hari sesudah kau pergi. Bersuyukur, kau masih kenan dan bersedia untuk selalu menyorot cahaya malammu dalam pekatku dan hinggap menemani tidurku hingga kuterlelap.

Mentari tak ingin kalah dengan cahaya malammu. Hal menakutkan rupanya datang lagi. Malam berganti pagi membuat aku segera bangkit dalam lamunan semuku semalam dan menjalani kenyataan hidup walau dengan satu kaki. Kau pun sirna dan kini aku menjalani tanpa cahaya.  Ketika patah arah, aku sesegera mungkin untuk membuka ingatanku tentang kamu. Sesudah itu pulih kembali dan semangat menjalani hari.

Posting Komentar

2 Komentar

  1. Apik wes, kirange siji penghayatan ndek katane pas nulis ges.😬
    #semangat berkarya.

    BalasHapus