Momentum ini, bukan hanya sekedar perayaan, tetapi juga momen untuk merenung.
Sebagai guru, kami telah berjuang, mendidik dengan cinta, meski kadang tak dianggap.
Namun, seringkali penghargaan terasa sebatas seremoni, sementara masalah yang mendasar tetap diabaikan. Maka, izinkan kami mengatakan:
Selamat tinggal pada peringatan tanpa makna.
Selamat tinggal pada janji tanpa aksi.
Selamat tinggal pada pengabaian peran guru yang sejati.
Guru ialah sosok yang juga manusia, namun punya cita-cita mulia mencerdaskan
kehidupan bangsa sekaligus pencetak karakter mulia sebagai cerminan sebuah
bangsa.
Bagaimana sebuah bangsa menjadi lebih baik dapat dilihat dari seberapa
bagus kualitas sumber daya manusia. Tentu untuk menjadi manusia yang diharapkan
bangsa, dapat dilihat sejauh mana bangsa itu memberdayakan manusia itu sejak
proses menjadi manusia. Inilah yang menjadi cita-cita sebuah bangsa. Lahir generasi
baru yang mampu berbudi luhur juga berinovasi.
Dulu, guru dianggap sosok idola. Ada juga yang menganggap sosok pahlawan
tanpa tanda jasa, dihormati dan menjadi idaman.
Namun, di era serba cepat
sekarang, peran guru berubah. Banyak guru kini menjadi sasaran kritik netizen,
atau bahkan orangtua murid sendiri.
Guru adalah figur yang sangat disegani dulunya, pemimpin moral di sekolah dan
masyarakat. Dia dianggap pahlawan yang mendidik generasi dengan penuh dedikasi.
Seorang siswa dangan memuji gurunya, mereka menjadikan guru sebagai idaman
layaknya artis-artis.
Ketika di luar jam belajar di sekolah, seorang siswa tidak berani melewati
jalan yang di situ ada guru mereka. Bukan mereka takut, tapi kebanyakan dari
mereka malu bertemu guru mereka jika dari perilaku dan perkataan mereka ada
yang tidak pantas saat berhadapan dengan guru.
Andai saja mereka harus berpas-pasan dengan guru, mereka sudah pasti
menundukkan kepala dengan penuh hormat. Karena guru-guru zaman dahulu memang
identik dengan ketegasannya.
Dia selalu “killer” apabila ada siswanya yang tidak sesuai dengan aturan
yang berlaku. Pun tampang marah seorang guru zaman dahulu pastinya bukan tanpa
alasan. Dia memarahi siswanya dengan penuh kasih sayang. Pihak orang tuanya
pun, demikian. Orang tua pasrah betul pada gurunya untuk “diapa-apakan” sejauh
memang demi karakter si anaknya berubah menjadi lebih baik lagi.
Dengan hadirnya media sosial, segalanya bisa langsung viral, termasuk
kesalahan yang dilakukan guru. "Budaya cancel”, yang berarti memboikot atau
mengkritik seseorang secara massal, kini menjadi tren. Netizen cepat memberikan
pendapat dan kritik, tanpa memperhatikan konteks atau mencoba memahami situasi
lebih dalam.
Banyak kasus guru mutakhir ini yang tiba-tiba menjadi sorotan karena ucapan
atau tindakan yang dianggap tidak pantas oleh netizen. Marak sekali, kejadian
ini menjadi viral dan guru tersebut mendapat serangan negatif di dunia maya,
bahkan bisa berujung pada tuduhan-tuduhan yang menjadikan guru jadi korban
pidana hanya karena opini publik yang cepat berubah.
Era digital ini, guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga figur
publik yang harus siap menghadapi pengawasan dari masyarakat. Tekanan untuk
selalu “sempurna” di media sosial mengubah cara mereka berinteraksi dengan
murid dan orang tua. Guru menjadi lebih rentan terhadap kritik yang bisa datang
kapan saja.
Penting untuk kembali menghargai guru sebagai profesi yang memiliki tantangan
berat. Masyarakat dan orang tua perlu lebih memahami dan mendukung guru agar
mereka bisa menjalankan tugasnya tanpa rasa takut menjadi korban kritik yang
tidak adil. Perlindungan hukum dan pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat
tentang peran guru sangat diperlukan.
Menghargai guru sebagai sosok idaman zaman sekarang memerlukan pemahaman
yang lebih dalam. Guru harus mendapatkan dukungan, bukan hanya dari sesama
rekan sejawat, tetapi juga dari masyarakat dan orangtua. Dengan mengembalikan
rasa saling percaya, kita bisa membangun dunia pendidikan yang lebih baik, di
mana guru tetap menjadi sosok idaman layaknya influencer, meski di era yang
serba digital ini.
Kami berharap, suatu saat,
Hari Guru bukan lagi sekadar simbol, melainkan
benar-benar menjadi pengakuan nyata akan pentingnya peran pendidik dalam
membangun bangsa!
0 Komentar