Advertisement

Main Ad

Guru Vs Netizen: Di langit jadi idaman, Di bumi berwujud korban

Momentum ini, bukan hanya sekedar perayaan, tetapi  juga momen untuk merenung. 

Sebagai guru, kami telah berjuang, mendidik dengan cinta, meski kadang tak dianggap. 

Namun, seringkali penghargaan terasa sebatas seremoni, sementara masalah yang mendasar tetap diabaikan. Maka, izinkan kami mengatakan:

Selamat tinggal pada peringatan tanpa makna.

Selamat tinggal pada janji tanpa aksi.

Selamat tinggal pada pengabaian peran guru yang sejati.

Guru ialah sosok yang juga manusia, namun punya cita-cita mulia mencerdaskan kehidupan bangsa sekaligus pencetak karakter mulia sebagai cerminan sebuah bangsa.

Bagaimana sebuah bangsa menjadi lebih baik dapat dilihat dari seberapa bagus kualitas sumber daya manusia. Tentu untuk menjadi manusia yang diharapkan bangsa, dapat dilihat sejauh mana bangsa itu memberdayakan manusia itu sejak proses menjadi manusia. Inilah yang menjadi cita-cita sebuah bangsa. Lahir generasi baru yang mampu berbudi luhur juga berinovasi.

Dulu, guru dianggap sosok idola. Ada juga yang menganggap sosok pahlawan tanpa tanda jasa, dihormati dan menjadi idaman. 

Namun, di era serba cepat sekarang, peran guru berubah. Banyak guru kini menjadi sasaran kritik netizen, atau bahkan orangtua murid sendiri.

Guru adalah figur yang sangat disegani dulunya, pemimpin moral di sekolah dan masyarakat. Dia dianggap pahlawan yang mendidik generasi dengan penuh dedikasi. Seorang siswa dangan memuji gurunya, mereka menjadikan guru sebagai idaman layaknya artis-artis.

Ketika di luar jam belajar di sekolah, seorang siswa tidak berani melewati jalan yang di situ ada guru mereka. Bukan mereka takut, tapi kebanyakan dari mereka malu bertemu guru mereka jika dari perilaku dan perkataan mereka ada yang tidak pantas saat berhadapan dengan guru.

Andai saja mereka harus berpas-pasan dengan guru, mereka sudah pasti menundukkan kepala dengan penuh hormat. Karena guru-guru zaman dahulu memang identik dengan ketegasannya.

Dia selalu “killer” apabila ada siswanya yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku. Pun tampang marah seorang guru zaman dahulu pastinya bukan tanpa alasan. Dia memarahi siswanya dengan penuh kasih sayang. Pihak orang tuanya pun, demikian. Orang tua pasrah betul pada gurunya untuk “diapa-apakan” sejauh memang demi karakter si anaknya berubah menjadi lebih baik lagi.

Dengan hadirnya media sosial, segalanya bisa langsung viral, termasuk kesalahan yang dilakukan guru. "Budaya cancel”, yang berarti memboikot atau mengkritik seseorang secara massal, kini menjadi tren. Netizen cepat memberikan pendapat dan kritik, tanpa memperhatikan konteks atau mencoba memahami situasi lebih dalam.

Banyak kasus guru mutakhir ini yang tiba-tiba menjadi sorotan karena ucapan atau tindakan yang dianggap tidak pantas oleh netizen. Marak sekali, kejadian ini menjadi viral dan guru tersebut mendapat serangan negatif di dunia maya, bahkan bisa berujung pada tuduhan-tuduhan yang menjadikan guru jadi korban pidana hanya karena opini publik yang cepat berubah.

Era digital ini, guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga figur publik yang harus siap menghadapi pengawasan dari masyarakat. Tekanan untuk selalu “sempurna” di media sosial mengubah cara mereka berinteraksi dengan murid dan orang tua. Guru menjadi lebih rentan terhadap kritik yang bisa datang kapan saja.

Penting untuk kembali menghargai guru sebagai profesi yang memiliki tantangan berat. Masyarakat dan orang tua perlu lebih memahami dan mendukung guru agar mereka bisa menjalankan tugasnya tanpa rasa takut menjadi korban kritik yang tidak adil. Perlindungan hukum dan pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat tentang peran guru sangat diperlukan.

Menghargai guru sebagai sosok idaman zaman sekarang memerlukan pemahaman yang lebih dalam. Guru harus mendapatkan dukungan, bukan hanya dari sesama rekan sejawat, tetapi juga dari masyarakat dan orangtua. Dengan mengembalikan rasa saling percaya, kita bisa membangun dunia pendidikan yang lebih baik, di mana guru tetap menjadi sosok idaman layaknya influencer, meski di era yang serba digital ini.

Kami berharap, suatu saat, 

Hari Guru bukan lagi sekadar simbol, melainkan benar-benar menjadi pengakuan nyata akan pentingnya peran pendidik dalam membangun bangsa!

Posting Komentar

0 Komentar