Dermaga kala itu.
Sesekali, aku rindu dermaga itu.
yang didampingi oleh desiran air laut dan mengembuskan sepoi angin pantai hingga
aku lupa tentang kerasnya hidup. Kita berikrar akan janji suci sembari menanti
senja yang hendak mengkelalapkan cahaya. Ah, indah sekali. Namun sangat
disayangkan kau melengahkan pandanganku kala itu. Bahwa aku sedang bersajak
manis. Aku memohon kepada Sang Pencipta senja agar nantinya kaulah yang menjadi
jawab disetiap doaku. Kuberharap bisa tetap menggenggam tanganmu sampai ajal
menghampiri. Menopang badai disetiap hari.
Sudah terlalu benam janjimu dilubuk
dasar hatiku. Selama ini masih saja pernak-pernik iktikadmu selalu berkunang
disetiap malam heningku. Menemani dalam tidurku, dan menjagaku hingga terlelap
dalam mimpi permai dengan balutan ucapanmu. Aku tak merasakan sedikitpun rasa
sakit, namun bagiku hanya semacam tabokan manja darimu. Karena Aku belum sampai
puncak membuatmu bahagia untuk tetap bahagia selamanya. Aku menyadari tentang
hal itu. Andai kutahu segala yang terjadi pada akhirnya, mungkin tak seharusnya
kau menebarkan lekat lesung senyummu lebar-lebar didalam hatiku. Jika berujung
pada sebuah penantian kamuflase semata.
Aku selalu berupaya berdamai dengan
hal kala itu. Memendam serpihan janji-janji yang kau ingkari sendiri. Tapi
sudah menjadi sebuah kenyataan waktu yang tak bisa kurenggut sepanjang ini.
Sang waktu melejit begitu pesat. Hingga Aku terkapar sepi tanpa kau temani
didasar bumi. Selayaknya bintang kau berada diatas dan tak lupa untuk kembali
bersinar berseri bersama bintang lainnya. Sementara aku masih berada dalam
terkapan binatang buas di Bumi ini. Menghadapi kerasnya hidup tanpa ada sesok
penyemangat disetiap hari-hari sesudah kau pergi. Bersuyukur, kau masih kenan
dan bersedia untuk selalu menyorot cahaya malammu dalam pekatku dan hinggap
menemani tidurku hingga kuterlelap.
Mentari tak ingin kalah dengan
cahaya malammu. Hal menakutkan rupanya datang lagi. Malam berganti pagi membuat
aku segera bangkit dalam lamunan semuku semalam dan menjalani kenyataan hidup
walau dengan satu kaki. Kau pun sirna dan kini aku menjalani tanpa cahaya. Ketika patah arah, aku sesegera mungkin untuk
membuka ingatanku tentang kamu. Sesudah itu pulih kembali dan semangat menjalani
hari.


2 Komentar
Apik wes, kirange siji penghayatan ndek katane pas nulis ges.😬
BalasHapus#semangat berkarya.
Makasih masukannya guysss. Sangat manfaat...
Hapus