Advertisement

Main Ad

Percintaan Dua insan di Musim Pandemi

Kado Spesial di Gubuk Seberang

Gubuk menstruasi Nepal telan korban keempat di tahun ini
https://www.alinea.id/dunia/gubuk-menstruasi-nepal-telan-korban-keempat-di-tahun-ini-b1XaZ9htd

            Mentari mulai menyingsing sinar terang. Mega kuning berjalan sedikit demi sedikit. Burung saling menghempaskan sayapnya dan berkicau diantara tengger pohon-pohon rindang di halaman gubuk sepasang kekasih. Seperti biasa, pagi sebelum mengawali kerja, Fatah sempat-sesempatnya mencicipi masakan dan berbincang hangat dengan istrinya.

             "Mas, sarapan sudah siap. Yuk makan dulu” menjumpai suami masih menatap kosong di Teras Rumah.

            “Mas?” Sembari perempuan itu menghalangi pandangan Fatah.

            “Hah, gimana sayang?”

            “Ih, ngelamun apa sih?”

            “Nggak apa-apa kok sayang” Fatah mendekap dengan hangat.

            “Aku bersyukur memilikimu, Aku tidak akan mengecewakanmu sedikit pun. Lanjut laki-laki itu.

        “Ih pagi-pagi udah kayak sinetron aja Mas. Aku juga berusaha menjadi makmum yang baik untukmu Mas” Dewi tersenyum haru.

        Fatah dan Dewi menjalin hubungan pernikahan sudah lama. Bagi Fatah pernikahan bukan sebatas permainan yang bisa hidup kembali sesuai kehendaknya. Membutuhkan keberanian komitmen dan tekad setia bulat.  Ia menyadari bahwa banyak dari sirkel temannya gagal meraungi lautan bersama hingga sampai pulau yang diinginkan. Ia tak ingin bergabung nasib perceraian seperti rekan-rekan kerjanya.  

            Fatah mulai meresahkan pesan yang dikatakan babas bahwa mulai saat ini ongkos pekerjaan yang dijalaninya ada pengurangan. Melihat kondisi dunia yang masih ketat aturan jaga jarak, pakai masker, dan di rumah saja. Tambah-tambah Dewi yang sedang menginjak kandungan buah hati 8 bulan. Fatah bekerja sebagai ABK di salah satu awak kapal Swasta. Ia sudah menjalaninya sudah hampir 3 tahun.

      “Pekerjaan mulai sulit sekarang. Apa-apa serba terbatasi. Pak Babas mengurangi upah kerja setiap karyawan.” Ucap Fatah.

        Pak Babas ialah sosok majikan lintah darat awak kapal. Padahal teman di bangku sekolah Fatah.

          “Sudah mas, tidak mengapa. Jalani aja dulu.

          “Aku tak habis pikir, kenapa harus dikondisi yang seperti ini” Mengelus-elus kepalanya.

     “Kan kita juga tahu musim-musim seperti ini tidak mudah. Semuanya merasakan itu kok” menenagkan pikiran Fatah.

         Fatah merasa bersyukur sekali mendapatkan pendamping hidup bernama Dewi. Ia sosok wanita penyabar. Setiap semangat Fatah menyurut ia tak segan untuk membangunkan keterjatuhan itu.

       “Mas, aku jadi khawatir di saat masa-masa seperti ini. Apalagi kamu pekerja di awak perkapalan.”

       “Ada apa memangnya jika pekerja sebagai perkapalan? kamu gengsi dengan tetangga samping rumah? jadi pejabat negara yang gajinya mengalir terus?” Nada menaik.

       “Bukan begitu. Aku hanya takut nanti sesuatu terjadi apa-apa kepadamu mas, orang asing juga kan keluar masuk penyebrangan,” Ucap Dewi dengan rasa penuh kecemasan.

       “Sayang, sudah lah. Kalau tidak begini? Mau kerja apa Aku? Aku tidak mempedulikan hal itu, yang terpenting ialah bagaimana caranya dapat bertahan hidup demi keberlangsungan keluarga kita. Aku tidak mempedulikan itu. Apalagi kamu sedang mengandung anak kita. Justru yang ada aku harus tambah semangat bekerja,” seraya mengggenggam tangan Dewi yang dingin itu.

            Kemudian Fatah berangkat bekerja dengan kendaraan motornya honda kirana 125. Dan tak lupa sebagai jaga-jaga, Dewi memberikan helm dan satu buah masker kepadanya.

        “Ini mas, helm dan maskernya. Jangan lupa dipakai. Jaga kesehatanmu, mas” sembari mengecup tangan suaminya.

       “Iya. Ciye habis ini jadi calon ibu. Kamu jaga kesehatan juga ya demi anak kita, ya sudah aku berangkat dulu. sembari melekatkan bibir ke kening istrinya.”

           “Hati-hati mas di jalan” dengan melembutkan suaranya.”

Fatah pun berangkat kerja. Sementara Dewi sendirian di Rumahnya. Sesekali ia menelfon temannya yang bernama Rani. Ia sudah lama bersahabat sedari bangku sekolah. Kebetulan rumah Rani bersebelahan dengan Dewi. Mereka berdua pun bersua dengan budaya baru cuci tangan sebelum masuk rumah Dewi.

           “Ada apa wi kamu nelfon aku? Tadi aku masak baru sempat memegang ponsel” ucap Rani.

           “Ini nih perutku agak melilit Ran” dengan mengusap perut besarnya.

Tiba-tiba situasi hening. Rani melihat rembesan air di kasur Dewi.

        “Wi, aku antar kamu ke bidan sekarang ya. Tunggu sebentar. Aku panggilkan Mas anto, kebetulan ia libur kerja” pandangan Rani begitu gugup.

Secepatnya ia berlari dan memanggil suaminya.

        “Mas minta tolong antarkan Dewi ya. Dia kayaknya mau lahiran” ucapnya tergesa-gesa. 

        “Baiklah. Dimana dia sekarang?” Ucap Anto.

       Kemudian Dewi pun dibawa oleh Anto dan Rani dengan mengendarai mobil yang dimilikinya. Sesampainya, Rani diberi tahu Bu bidannya bahwa persalinan harus segera dilaksanakan sekarang. Karena sudah waktunya bayi keluar. Dan Rani pun menyetujui saran bidan tersebut.

     Adanya rapid test bagi anggota pekerja awak kawal yang diadakan secara massal mengharuskan Fatah berat hati meninggalkan istri yang terkapar sendiri di Rumah. Fatah masuk tergolong pasien yang terjangkit virus Covid-19 yang mengharuskan isolasi secara intensif di Rumah Sakit untuk penyembuhan. Ditengah ruang isolasi Fatah tiba-tiba merasakan sesak yang mendalam. Badannya menjadi kaku, nafas pun terhenti.

        Sementara Dewi mempertaruhkan nyawa dan matinya untuk sang buah hati. Hanya ada Rani disampingnya. Ia salah satu sahabat yang selalu menemani ketika kondisi apapun itu. Satu jam kemudian terdengar keras tangisan buah hati atas nama bapak Fatah dan ibu Dewi. Dewi sangat lega bercampur panik. Masalahnya tiada suami disampingnya.

        Sesegera pihak Rumah Sakit mengabari kepada ponsel Dewi namun Rani yang memegangnya karena Dewi masih lemas. Lantas Rani pergi keluar dari Rumah Bidan kemudian mengangkat telpon dari nomor yang tak dikenal.

              “Apakah benar ini keluarga dari bapak Fatah?”

           “Ya bapak, benar. Ini saya yang mewakili. Bagaimana kondisi pasien untuk saat ini?” dengan penuh bertanya-tanya

         “Mohon maaf. Kami sudah berusaha berjuang demi kesembuhan sdr. Fatah namun penyakit terlalu ganas, sehingga nyawa dari sdr. Fatah tidak dapat tertolongkan” Ucap dokter.

        Rani terkejut mendengar kabar dari pihak Rumah Sakit. Ia mengerti betul bagaimana kondisi mereka berdua saat ini. Sama-sama saling berjuang. Fatah berusaha berjuang melawan penyakitnya dan Dewi melawan rasa perih lahirannya.

         “Maaf bu, Kami meminta doa dan sekaligus ridonya untuk pemakaman jenazah, pihak rumah sakit yang mengurusi sesuai dengan aturan pemerintah. Kami memohon rela hati dan tabah menghadapi ini semua bu. Sabar ya bu.” Ucap Dokter.

        Rani bingung harus bagaimana menyampaikan kepada Dewi tentang kabar ini. Ia tidak mau menambah beban Dewi. Akhirnya Rani pun memendam kabar ini menunggu kondisi Dewi pulih bugar kembali.

            “Wi, ada yang mau aku omongin nih”.

            “Iya. Ngomong aja. Serasa kayak orang baru aja kamu Ran.”

            “Pihak Rumah Sakit mengkabarkan bahwa suamimu tidak dapat tertolongkan.”

          “Terus bagaimana jenazah dia sekarang? Kok baru ngabarin sih? Mengapa kamu telat kabarin?” Isak suara tersendak-sendak.

            “Maafkan aku wi, yang iklas ya. Ini ada surat yang dititipkan pihak rumah sakit kala itu” Rani menyodorkan amplop putih yang masih tersegel.

 

Sehelai bunga mawar untukmu.

     Maafkan Aku sebab selalu bikin gelisah kepadamu. Tak segan Aku selalu merepotkan tanpa berbalas kasih kepadamu. Dan kini aku memaksa kendali keegoisanku, hanya untuk mengkabarkan keadaanku. Aku baik-baik saja disini. Kau tak perlu meresahkan hal itu. Aku tahu membahagiakanmu ialah suatu tujuan utama  dalam hidupku. Tidak ada satu pun orang yang mau mendengarkan opiniku selain dari pada kamu. Aku tak ingin mendengarkan apa kata orang tentang hubungan kita. Karena kau telah berjuang keras melawan ajalmu. Aku percaya, Kau kuat menghadapi ini semua. Aku mengegoiskan kasih kepadamu. Maafkan Aku karena selalu bikin gelisah kepadamu. Terimakasih telah menerima aku dengan apa adanya.

Suami Egois,

Fatah



        Seketika itu Dewi terdiam beberapa menit. Tangannya dengan cepat membendung air mata yang jatuh pada raut muka. Jantungnya berdebar tidak karu-karuan. Bibirnya pucat dan Dewi tak habis terima kabar itu. Namun ia tidak ingin larut-larut dengan kesedihannya. Sesekali ia langsung menuju tempat pemakaman suaminya itu. Dewi menaburkan sehelai demi sehelai bunga mawar segar di atas tanah makamnya.

            “Mas, Aku tidak ingin hidup sendiri tanpamu. Aku yakin Kamu disana bahagia juga. Anak kita sudah lahir. Aku ingin merawat anak kita hingga tutup usia. Ternyata kau pamit duluan. Aku tidak menyesal hidup bersamamu.” 

               Seraya memandang batu nisan bertuliskan Abdul Fatah, wafat Jember, 10-10-2020.


Posting Komentar

2 Komentar

  1. Salam santun tuan...
    Cerita yg sangat bagus tuan..
    Musim semi telah menggugurkan bunga mawar. Yg tak sempat memberikan salam kepada tangkainya

    BalasHapus