
tupilmabruri- Sadar atau tidak? seseorang lebih sering sibuk memosting diri di kancah medsos daripada memesrakan dirinya kepada Tuhannya.
Mungkin banyak
dari Anda termasuk diri saya sendiri yang sedikit banyak mengadukan keluh kesah
terhadap manusia atas segala musibah ataupun kenikmatan yang telah kita terima
oleh Tuhan, lantas kita posting ke berbagai media sosial tanpa pikir sejenak.
Kita tidak begitu faham, apa maksud mereka (yang memposting) tanpa ada tujuan. Barangkali jika saya boleh berhusnudzon, hal sedemikian bermaksud untuk tiada lain agar membugarkan rasa empati selayaknya sesama manusia. Namun tidak dipungkiri bahwa membangun rasa empati kepada orang baik dengan kita tentu akan menunjang kepada tumbuh kembang seseorang menjalani kehidupan.
Tapi masalahnya, kita hidup di dunia ini
apakah semua berisikan orang-orang baik nan bijak saja? Sedangkan sesuatu yang
kita posting bisa sampai menembus seantero dunia. Sesekali orang yang melihat
kepada postingan kita jika tepat pada orang yang benci terhadap kita, kita
malah-malah akan disibukkan dengan debat kusir meniti jalan pembenaran.
Hal ini sudah
menjadi kelumrahan bagi setiap orang. Padahal kita perlu tau juga bahwa cikal
bakal timbulnya adu mulut dan lontar fitnah, bisa jadi bermula dari hal remeh seperti
ini.
Mengutip maqalah
syekh nawawi albantani,
من أصبح وهو يشكو ضيق المعاشي فكأنّما يشكو ربّه؛ ومن أصبح لأمورالدنيا حزينا فقد أصبح ساخطا على الله ومن تواضع لغني لغناه فقد ذهب ثلثا دينه
“Barangsiapa di pagi hari mengadukan kesulitan hidup, maka seperti saja ia mengadu kepada Tuhannya. Barangsiapa di pagi hari merasa susah karena urusan ke duniaan, maka sungguh di pagi hari itu juga ia benci kepada Allah. Dan barangsiapa merendah diri kepada orang kaya karena harta, maka sungguh telah sirna dua pertiga agamanya.”
Berbagai berita hoaks, fitnah, dan fake news
tersebar secara rapi di media sosial. Sebab kita sedang berada pada jalur yang
mana kita bergerak, sedang oranglain sigap menyergah.
Kita harus berani menyadari pada dalam diri bahwa sebenarnya
"kita lebih nyaman segala permasalahan dilihat oleh manusia. Bukan Sang Pencipta."
"Kita sebenarnya ingin lebih tampil memukau dihadapan manusia dibanding memikat di hadapan Sang Kuasa."
Menuqil maqolah syekh nawawi al-Banteni dalam kitabnya Nashoih al-‘Ibad menyatakan,
كم من مستدرج بالنعمة عليه، وكم من مفتون بالثناء عليه، وكم من مغروربالسترعليه“Banyak orang yang hanyut terbuai kenikmatan, banyak orang terkunyah fitnah karena pujian, dan banyak orang yang tertipu oleh tutup keaiban.”
Karena begitu banyaknya memperoleh kenikmatan,
orang dapat hanyut dan lupa akan daratan. Karena banyak mendapat pujian, orang
dapat masuk dalam jaringan fitnah dan bencana. Dan lantaran aib dirinya selalu
tertutup, maka orang dapat tertipu sehingga lupa akan akhirat.
Mari kita sama-sama memaut fenomena sedemian rupa
bersama hati dan logika yang teduh.
05/11/20

2 Komentar
Subhanallah Terima kasih ustad atas ilmunya
BalasHapusMaaf sebelumnya, saya bukan ustad. Kami hanya ingin tebar manfaat dan kebaikan.
BalasHapusTrimakasih atas kunjungannya ikhwani.