Tipikal-tipikal Manusia Robot
![]() |
| https://www.freepik.com/free-vector/cartoon-human-evolution-isolated-flat_9649147.htm#page=1&query=robot%20man&position=23 |
Sebuah penyakit pikir yang selalu mengedari di
kepalaku, pada akhirnya mendapati sebuah pencerahan. Meminjam lontar kata Lelaki
Jingga disebutnya.
“Aku tidak bermaksud mengatakan bahwa mengikuti pola hidup konvensional itu salah, tidak. Itu hakmu sebagai individu. Aku hanya bermaksud mengatakan: apa pun yang kau lakukan, jangan lupa mengingat ‘hakikat’. Jangan lupa terhadap alasan pertama mengapa kau melakukan hal-hal itu” (Catatan Juang: 2018).
Manusia diciptakan oleh sang pencipta tiada lain untuk beribadah dan beramal bajik. Namun faktanya? Manusia melenakan itu semua.
Begitu banyak yang terpikat oleh imut-imut nan rancaknya dunia. Harta,
jabatan, keturunan, perempuan, perhiasan, dan an-an lainnya. Sehingga kita
terkadang menimbang-nimbang. Ternyata kita sudah amat jauh dari tujuan
diciptakan sebagai manusia.
Sunat massal menggalang dana dalam suatu kegiatan sudah dianggap kode etik, menjalankan sanggama mulai berkedok kekinian, hak para pedestrian dalam jalan raya kini menjadi mobil dan motor semata, kini bekerja bukan lagi untuk hidup namun hidup untuk bekerja, berkesenian bukan lagi memenuhi kebutuhan jiwa namun memenuhi kebutuhan perut, menghadirkan uang demi kebahagiaan namun membunuh tali persaudaraan.
Kita masih sempat mengelak dengan
itu semua?
Kita harus berani menyadari bahwa manusia merupakan makhluk yang tak pernah usai perihal merasa puas. Bukan hanya dalam angka perceraian yang semakin melonjak, tapi ke semuanya. Selalu minta lagi dan lagi. Sudah diberi satu berkeinginan dua, dan seterusnya.
Tidak juga salah, begitu banyak manusia sekarang ini yang sedikit untuk bersyukur dan menikmati. Kena dihitung. Yang ada hanya orang-orang sambat kepada manusia. Entah, apa modusnya? Karna di sekarang ini jika tak punya modus tak akan berjalan mulus. Yang hendak dijalankan seharusnya sambat kepada pemberi sambat, bukan malah menjalarkan korban sambat kepada orang lain.
Ditutup bukan justru digali lagi lubangnya. Bukannya begitu? Salah satu mengapa terjadi hal sedemikian itu? tiada lain ekspetasi yang kian menjadi-jadi.
Ekspetasi bisa diraup oleh siapa
pun, terkecuali bagi orang-orang bijak yang memandang hidup hanya sebagai
tempat mereguk air minum untuk kemudian melanjutkan singgah yang diyakini keabadiannya.
Jika dalam pepatah jawa menyatakan begini,
“Ojo dumeh, ojo nyeleneh, ojo ngersulo, ojo suloyo lan rasah neko-neko. Nek kowe terus sambat karo opo seng kowe ra ndue, kuwi bakalan gawe kowe ora cukup karo urip iki, sukuri wae opo seng onok, sukuri opo hang ono.”
Kurang lebihnya seperti ini,
“Jangan terlalu bangga pada dirimu, jangan bersikap aneh-aneh, janganlah mengeluh, jangan berputus asa serta tak perlu macam-macam. Jika kamu terus menerus mengeluh kepada apa-apa yang tak kau punya, nanti hanya membuat tidak merasa cukup kepada kehidupan yang kau jalani, syukuri apa adanya dan bersyukurlah kepada apa yang ada.”
Kita boleh mengikuti laju jaman semaunya. Asalkan ingat kemana kita harus pulang menuju kampung halaman. Kita boleh saja hidup bebas aturan, asal ingat segala sesuatu yang pernah kita tanam akan pula kita tuai di kemudian hari.
“Seiring melambung tinggi ekspetasi, Semakin cuai jalan untuk menikmati.”
12/10/2020


4 Komentar
makasih sharingnya
BalasHapusKembali kasih atas dukungannya kak
HapusReminder yg bagus, utk selalu menjaga sikap dan tingkah laku :). Aku belajar utk slalu bersyukur dengan apa yg dimiliki, dan ga terlalu iri dengan yg dimiliki org lain. Iri cuma bikin hati jd ga tenang ,dan ujung2nya sudah bahagia
BalasHapusMenjadi perlu untuk kemudian menekan acuan standart kebahagiaan dalam diri kita. Trimakasih atas kunjungannya kak.
Hapus