Orang Gila yang Memendam Rasa Rindu -
Malam ini terdengar sunyi bagi manusia, tapi percayalah bumi
beserta isinya tidak hanya diam. Andaikan manusia diberi kemampuan seperti Nabi
Sulaiman, niscaya akan mendengar setiap rintihan tasbih yang ada di bumi.
Semuanya mengumandangkan shalawat pujiaan kepada Maha Pencipta dan UtusanNya, ialah
utusan yang mulia dari yang termulia. Sebaik-baik makhluq dan penuh Rahmat.
Aduhai betapa agung Anugerah ini, sehingga tidak heran yang notabenya salah seorang Nabi ingin menjadi pengagum sekaligus ummatnya. Jika tidak lantaran beliau manusia beserta alam semesta tak akan terlahirkan. Hanya karena Nur Muhammad semuanya menjadi tercipta dan berwarna. Wajah yang seperti matahari dan bulatnya bulan purnama. Putih manisnya wajah seketika berjalan seakan-akan wajahnya menyertai sinar purnama dan terbitnya sunrise.
Hanya bagi-Nya segala puji yang tiada terhingga bilangannya. Dengan segala rahasia-rahasia yang luar biasa. Bahagia dan suka ria berdatangan merasuki qalbu, menyambut datangnya kekasih Allah, Sang Pembawa risalah dengan selembut hikmah bagi seluruh alam semesta.
Mata memandang dengan penuh damba kepada insan yang sempurna, pemberantas segala kesesatan. Sang Revolution kegelapan menuju terang benerang. Seuntaian kata tang sanggup mengungkapkan segala kerinduan ini.
Duhai Kanjeng Nabi, kami tidak tahu bahwa akankah hamba yang remeh, kecil, berdosa, hitam kusam ini dianggap sebagai ummatmu? Kami hanya bisa berharap dengan kesungguhan hati untuk selalu mencari perhatianmu melalui ahlu bait dan pujian kepadamu. Dengan kebodohan dan rasa kemunafiqan yang dianggap sesat oleh sekelompok lain, kami tak mempedulikannya.
Yang terpenting cukuplah Njenengan yang ada di hati. Layaknya seseorang yang jatuh cinta. Jika dilogikakan akan di label sebagai orang gila namun jika berbicara dengan hati. Gilaku, berdasarkan pengarahan yang tepat dari para pewaris beserta keturunanmu wahai Muhammad.
Penantian yang sesungguhnya berada di yaumul qiyamah nantinya. Hanya engkaulah yang setia menunggu. Masih peduli dengan seluruh ummatmu. Kami tak bisa berkata. Apalah dayaku untuk hal ini. Nyawa yang berada di ujung tenggorokan pun kami belum tentu bisa mengingat Tuhan, apalagi para mu’min-mu’minat. Engkau malah bersedia dan terbesit untuk memikirkan bagaimana nasib ummatku nantinya?
Semua diambang logika. Tidak ada manusia tandingan selain engkau Rasul Muhammad. Rahmat beserta ta’dhim kami akan selalu mengiringimu. Beribu maaf, tidak terbilang dan mencukupkan atas kemulyaan dan kasih sayangmu terhadap seluruh alam. Panutan dari segala manusia.
Entahlah, kami menulis dengan ketidak jelasan diatas ambang pikir dan terlalu berlebihan bagi manusia umumnya. Sebab bagaimana mungkin pena para penulis mampu melukis tentang segala sesuatu yang bersangkutan. Dengan manusia paling utama diantara manusia seluruh-Nya. Namun hatiku tergerak untuk menuliskan rasa yang tidak dapat aku pendam. Mungkin efek dari perasaan yang berbunga, sehingga semua anggota badan ini ingin ikut serta dalam mengungkapkan rasa kagum, dan ta’dhim kepada Nabi Agung Muhammad SAW.
Dan kiranya Allah SWT berkenan melipat gandakan manfaatnya teruntuk bagi si pembicara dan pendengar sehingga keduanya ikut memasuki pintu syafa’at dan senandung rasa candu, dan menghirup kenikmatan itu.
-Tupil Mabruri
13 Desember 2019/ 02.47 WIB


2 Komentar
Subhanallah.. keren pak
BalasHapusSg ditulis memang sekeren-kerene Menunso😢
BalasHapus