Media Sosial salah satu wadah ajang pamer yang dimiliki oleh siapapun. Tidak kenal balita hingga dewasa. Semua orang bisa menjadi figur siapapun itu. Mulai dari kelas atas hingga bawah. Hampir-hampir manusia sekarang, memiliki gadget. Itulah mengapa penulis lantang menyematkan kelas bawah. Karena sudah menjadi kebutuhan.
Akan tetapi yang bernama nafsu, mesti hidup berdampingan
dengan manusia. Dan nafsu kerap kali mengarahkan manusia menuju jurang penyesalan.
Berkaitan dengan media sosial dengan nafsu. Ada yang menyatakan media sosial
ialah bentuk eksistensi dan ekspresi manusia. Tapi, Wadah eksperesi seseorang
seyogyanya perlu ditambatkan supaya rekayasa dalam “real” kehidupannya minim
menimbulkan kedengkian manusia lainnya.
Tidak jarang juga percecokan dan kerusuhan diadvokasi
oleh penggunaan media sosial. Nafsu gemilang di media sosial yang sudah ada
sekarang adalah pengguna suka mempamerkan kelebihan-kelebihan gemilang dirinya.
Apalagi dengan alasan supaya menginspirasi banyak orang. Tetapi kenyataannya adalah
lagi-lagi diri sendiri itu lah yang lebih kuat pengaruh untuk merubah diri
sendiri. Kebahagiaan diri sendiri itu juga tidak sama dengan orang lain.
Kita mungkin pernah menemui bahwa jejak story orang yang
kelihatannya lebih gemilang dari pada kita kenyataannya pas bertemu tidak
sesuai dengan yang distorykan. Fenomena seperti itulah yang mampu meracuni
konsep kebahagiaan diri kita sendiri.
Berbeda jauh sekali jika kita bercermin pada aliran malamatiyah.
Malamatiyah adalah nama tarekat yang mulai berkembang pada pertengahan
abad ke 3 H. di NaisAbûr kota Khurosan. Tarekat ini juga dikenal denga nama
al-Qushâriyah (القصارية) atau al-Hamduniyah (الحمدونية) kedua nama
ini dinisbatkan kepada Hamdun bin Ahmad bin Amarah al-Qashar (w. 271 H). Beliau
yang menyebarkan tarekat “Malamatiyah” ini. (Redaksi Alif.ID: 2018)
Aliran tarekat ini beranggapan bahwa justeru mereka
selalu menampakkan perbuatan lahiriyah yang jelek-jelek kemudian menutup
rapat-rapat kebaikan di hadapan manusia. Sehingga khalayak manusia menganggap
justeru sebalik fenomena yang sudah beredar banyak di kancah media sosial. Inovasi
semacam ini terkadang perlu dibaca karena bisa saja yang kita harapkan kelak adalah
menginspirasi orang namun ketika di yaumul mizan, timbangan itu tidak berbobot sama
sekali lebih disebabkan karena dibungkus oleh aksesori sosial manusia.
Pada akhirnya, tidak perlu berlebih menilai sesuatu gemilang dengan hanya kacamata manusia. malah justeru kebaikan menjadi penting ditambatkan supaya hanya dirimu saja yang mengetahui disertai oleh Allah SWT.


0 Komentar