Drama Pembelajaran Jarak Jauh
| pixabay.com |
Merupakan suatu perkara yang tidak asing lagi, di telinga kita yakni pembelajaran di masa covid-19. Mungkin disini penulis tidak akan menuntun para pembaca kepada dampak-dampak atau pun efek samping secara nyata, tanpa buat-buat pemanis., eh maksud kami pemanis buatan.
Cuman dalam kesempatan
ini, kami hanya sedikit meretorika drama sambat-lucunya tentang pembelajaran
jarak jauh.
Pembelajaran jarak jauh menurut salah satu pakar
pendidikan, merumuskan definisi tersebut dengan pembelajaran yang dilakukan sebab
adanya pembatas antara pendidik dan peserta didik untuk kemudian melakukan
interaksi pembelajaran secara nyata.
Di masa-masa covid-19 ini, bener-bener sulit, baik dari peserta didik atau bahkan pendidik. Analoginya seperti ini,
biasanya ketika kita berada pada kondisi darurat, maka solusi bertahan paling ampuh, paling tidak mengandung unsur yakni sekedar “formalitas” atau hal-hal yang sedikit “terpaksa”.
Maksudnya bagaimana?
Begini, dalam pendidikan.
Sebelumnya kita sebagai pendidik sudah banyak beban tuntutan akan jenis perlengkapan admistratif, ditambah lagi mendidik putra-putri bangsa supaya menjadi good people lebih-lebih menjadi smart people.
Dan setengahnya, sebagai peserta didik.
Mereka ketika
pembelajaran nyata di kelas pun, masih ditemui keusilan dalam kelas, banyak
pelajaran yang harus difahami, dan belum lagi pekerjaan-pekerjaan rumah.
Kemudian pemerintah menertibkan penjalaran rantai positif covid-19, dengan menerapkan pembelajaran di rumah (khusus pendidikan).
Jika kita tukar pikir dan rasa,
lantas bagaimana nasib mereka yang sudah jatuh tambah tertimpa tangga?
Pihak peserta didik mengeluh akan fasilitas gadget, dan semakin banyaknya tugas.
Dan pihak pendidik mengeluh, meski berusaha sedikit demi sedikit qona’ah menjalani masalah ini
akan capaian materi pembelajaran, dan pentransferan teladan guru kepada peserta didik ketika mengajar.
Dalam hal menuntut ilmu, kamu harus memperhatikan 3 hal, yaitu:
Dalam hal ini pun penulis mengingat kembali, dawuh-dawuh orangtua dahulu.
1. Ridho Pendidik,
2. Ridho Peserta Didik,
3. Ridho Orangtua.
Yang dimaksud ridho disini, bukan nama orang. Akan tetapi sifat pasrah akan rela berjuang demi mencapai tujuan.
Ketiga komponen ini perlu
saling bersinergi di masa-masa sekarang ini. Contoh konkretnya ialah,
Si pendidik tiada henti terus berinovasi, bagaimana cara
pendidik agar peserta didik dapat memahami materi yang disampaikan.
Si peserta didik, bagaimana cara peserta didik agar dapat
menyerap penjelasan dari pendidik yang telah disampaikan dengan
sungguh-sungguh.
Dan si orangtua peserta didik pun begitu, bagaimana cara
agar anak di rumah tidak seenaknya, lepas awas dalam berselancar bebas dunia
maya.
Jadi, sebenarnya kesimpulan yang dapat kita tarik adalah, kita hanya butuh yang namanya sikap menerima dan saling memperjuangkan, antara ketiga stackholder diatas.
Ketika hal itu diterapkan, paling tidak manfaat
kecil yang bisa kita rasakan, adalah bersabar dan terus berjuang.

0 Komentar