Cerita Dewasa

Bisa merasakan pendidikan
hingga di Perguruan Tinggi, apalagi berbasis 'negeri' merupakan hal yang
patut disyukuri. Betapa banyak dari kita, ada sebuah keinginan namun belum
bisa mencapai kesana. Akan tetapi, hal yang tak terduga
menghampiri pada semester tua ini.
Bagiku menjadi semester tua
agak sedikit merepotkan. Bagiku di saat masa tersebut, seseorang
dipaksa. Dalam
kutip mau atau pun tidak. Aku harus
mentuntaskan pendidikan dengan tepat waktu. Masalahnya tekanan menimpa
juga pada
keluarga. Terkecuali bagi seseorang yang mandiri dalam finansial.
Aku sangat menyegani bagi orang berusaha keras. Tak
mengenal siang malam ia mencoba mengais modal demi untuk pendidikannya. Namun kebanyakan juga dari orang tersebut besar kepala kepada
orang yang belum bisa mengais harta sendiri. Ia seolah membanggakan diri bahwa
inilah hasil dari jerit payahku sendiri. Dengan menafikan sebuah takdir. Ia
juga lupa bahwa belum tentu orang yang belum dikatakan mandiri dalam hal
finansial itu bodoh.
Kemungkinan ia masih ingin fokus dengan pesantren dan
juga kuliah. Sehingga jika tertitik
hanya dengan kerja, lantas dikhawatirkan akan terganggu hal yang ada di
pesantrennya. Sudah banyak pengalaman dari orang-orang terdahulu bahwa
kerja dan ilmu merupakan hal yang saling berkontradiksi. Ia lupa bahwa hidup
ada campur tangan takdir dan porsi dalam hidup.
Toh tak semua orang
diciptakan untuk kerja dan tak semuanya orang diciptakan untuk berilmu. Itu
suatu pilihan. Yang terpenting ialah jangan berbesar hati atas segala yang kau
miliki. Niatnya mulia namun hanya untuk di persombongkan bukan
dipersembahkan.
Semester tua kali ini seseorang dihadapkan dengan dua
hal. Ingin lanjut kuliah atau terjun kerja. Pernah gak sih? Lain waktu kita ingin cepat menjadi dewasa namun sisi lain ingin
menjadi bocah tengil yang lagi main-main dengan kawanannya. Bermain
hujan-hujanan, petak umpet dan lain sebagainya. Tapi itu semua sudah tak bisa
direnggut kembali. Kenyataan tak bisa dijadikan pelarian. Menjadi dewasa butuh
tenaga dan juga ketegaran.
Terkadang, kita berada pada masa pasang dan surut,
tumbang dan berjuang, lelah dan cergah. Yah. Kadang capek juga. Tapi, perlu
digaris bawahi bahwa ini hanya membutuhkakn penyesuaian.
Masa-masa ini merupakan peralihan remaja menuju dewasa yang
sesungguhnya. Sikap konsisten pada komitmen yang telah kita tanam diuji.
Membutuhkan ketegaran dan kematangan prinsip supaya ketika kita terjatuh, kita
tahu jalan untuk tegak kembali.
Dewasa ini zona nyaman tak lagi berpihak pada kita.
Banyak segala tuntutan untuk dipersipkan arah ke depan. Tak mengapa. Kadang
kita pusing sendiri dengan segala aturan dan cara main orang dewasa. Kuatkan
saja.
Karena bukan masalah siapa yang cerdas melewati
permasalahan ini, namun siapa yang kuat untuk beradaptasi di masa-masa dewasa
ini.
13/10/2020

0 Komentar