
Seperti
yang disinyalir oleh DetikNews (20/04/2017) Salah satu ulama karismatik, KH.
Mustofa Bisri alias Gus Mus. Pernah mengungkapkan, kata-katanya itu sudah
tersebar di media sosial. Ia pun menjelaskan jika selama ini istilah yang
sering terdengar adalah "sing waras ngalah" atau "yang akalnya
sehat mengalah". Menurutnya istilah itu harus diganti agar yang tidak
waras tidak terus merasa benar. Hal itu diungkapkan ketika menjadi narasumber
acara Sarasehan Nasional Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) di Wisma
Perdamaian Semarang dengan tema "Melawan Hoaks, Mengembalikan Jati Diri
Bangsa".
"Ya
saya bilang, kalau yang waras mengalah terus, yang tidak waras merasa paling
benar. Sekarang tidak boleh yang waras mengalah terhadap kemungkaran,"
kata Gus Mus.
Dilansir
oleh cnnindonesia.com (07/03/2018). Ada banyak contoh kasus pelaku teror yang
berasal dari kalangan anak muda. Mereka juga diketahui terpapar paham
radikalisme-terorisme dari internet dan media sosial. Di samping itu, survei
Alvara Research Center (ARC) menemukan, dari 4.200 milenial di Indonesia ada
17,8 persen yang setuju khilafah sebagaibentuk negara. Menurut CEO ARC
Hasanuddin, paparan konservatisme dan radikalisme di kalangan milenial tersebut
tak bisa lepas dari konsumsi internet yang sangat tinggi.
Salah
seorang habib yang terpaksa eksis memandang fenomena yang semakin komplek
(Husein Ja’far, 2020) menuturkan "Kita harus mau menjadi populer dan mau
menjadi kreatif. Kalau medsos dan YouTube diisi oleh mereka yang tidak mampu
tapi mau. Ini akan menjadi kecelakaan bagi umat dan diri mereka sendiri. Kalau
mereka tidak punya ilmu agama yang cukup maka dakwahakan menjadi nafsu bagi
dia. Sehingga dakwah dibuat untuk memperkaya diri, menyebarkan nilai politis,
dan jadi kacau akhirnya."
Mari
kita telisik rekam jejak para pendahulu kita. Bagaimana Islam bisa masuk dengan
harmonis di tengah-tengah masyarakat yang notabene beragama Hindu dan Buddha. Professional
dalam kontekstualitas menilik situasi dan kondisi rupanya telah diajarkan oleh
para wali songo dalam mendakwahkan Islam. Dengan mengacu pada kaidah fikih
prinsip waqi’iyyah atau realistis. Realistis disini tidak berarti taslim
atau menyerah pada keadaan yang terjadi, tetapi berarti tidak menutup mata dari
realitas yang ada dengan tetap berusaha untuk menggapai keadaan ideal.
“Dalam kondisi sempit ada kelapangan, dan dalam kondisi
lapang ada kesempitan.”
“Menolak kerusakan didahulukan darripada mendatangkan
kemaslahatan.”
“Turun ke realitas yang lebih rendah ketika tak mungkin
mencapai idealitas yang lebih tinggi.”
“Beradaptasilah dengan mereka selama kamu ada di kediaman
mereka, dan hormatilah mereka selama kamu ada di kampung mereka.”
Metode
dakwah tidak hanya harus kreatif, inovatif, tetapi efektif. Dapat diterima
dengan sejuk dan terkesan. Demikian juga seperti dakwah yang telah dilakukan
oleh para wali songo. Sunan Kalijaga misalnya sangat toleran pada budaya lokal.
Ia berkeyakinan bahwa masyarakat akan menjauh jika pendirian mereka diserang.
Maka, mereka harus didekati secara bertahap, dan kita mengikuti sambil
memengaruhi. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk
sebagai sarana dakwah. Walhasil sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui sunan Kalijaga.
Dan
Sunan Kudus yang mendekati masyarakatnya melalui simbol-simbol Hindu dan
Buddha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang
dan pancuran wudhu yang melambangkan delapan jalan Buddha merupakan wujud
kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.
Bukan
berarti Agama Islam terbelakang gagap berhadapan dengan modernitas. Justru
Islam mampu beradaptasi di segala zaman. Sesuai dengan tempat dan waktu.
Dibilang kuno, karena sejarahnya. Dibilang modern, karena pantas. Istilah
“Islam Berkemajuan” diilhami pernyataan KH. Ahmad Dahlan: “Dadio kyai sing
kemajuan, lan ojo kesel-kesel anggonmu nyabut gawe kanggo muhammadiyah.”
Jika dalam bahasa Indonesianya “Jadilah kiai yang berkemajuan, dan jangan
lelah bekerja untuk muhammadiyyah.” (Noor Chozin Agham, 2012). Dalam
rumusan Din Syamsuddin, Islam berkemajuan adalah “Islam yang mampu beradaptasi,
mengakomodasi, serta menyesuaikan secara tegas dengan dinamika zaman.”
Dalam
buku “Di bawah Bendera Revolusi” Tahun 1964, Bung karno pernah menyatakan bahwa
watak progresif Islam mesti ditampilkan dengan menolak sikap taklid dan
mengagungkan masa lalu dengan mengidolakan “zaman chalifah”, yang pada akhirnya
menumpulkan rasionalitas. Kalaupun ia menyerukan kembali ke Qur’an dan Hadis,
itu harus disertai dengan mengendarai kendaraannya pengetahuan umum. Bung karno
pernah menyinggung dalam surat-surat Islam dari Ende. “Islam harus berani
mengejar zaman, bukan seratus tahun, tapi seribu tahun Islam ketinggalan jaman
... Bukan kembali pada Islam glory yang dulu, bukan kembali pada “zaman
chalifah”, tapi lari ke muka, gemilang. Kenapa toch kita selamanya dapat
ajaran, bahwa kita harus mengkopi ‘zaman chalifah’ yang dulu-dulu? Sekarang
toch tahun 1936 dan bukan tahun 700 atau 800 atau 900?”
Di era demokrasi ini, generasi milenial tentu harus berani bersuara dan bertukar pendapat untuk kepentingan bersama. Perkembangan media digital sebaliknya menjadikan silent majority lebih berani mengungkapkan pendapatnya.

0 Komentar