ã…¤Terlihat anggun memandang setiap janji dahulu yang kau taburkan dalam kertas putih suci sekarang kamu sendiri yang menodai dengan tumpahan air kopi. Tak begitu syahdu lantunan suara yang kau nyanyikan dahulu membuat hati ini melayang angkasa kini mendarat dalam tangisan air mata. Air kopi yang aku seduh sekarang bukan lagi membuatku candu namun trauma. Orang beranggapan bahwa air kopi membuahkan inspirasi bagiku hanya air yang meleburkan kebeningan. Semua tergantikan dengan ingatan pahit dimasa lalu.
ã…¤Aku juga ingin berucap banyak terimakasih atas segala yang kamu berikan kepadaku. Kamu telah mengenalkan aku pada secangkir kopi sebelum mengerti apa itu candu kopi. Mengerti indahnya suara melalui tangga nada. Rangkaian kata yang sederhana mampu dikemas dengan mudah menjadi percik kerinduan.
ã…¤Selamat jumpa wahai masa lalu. Aku tak begitu paham mengapa kamu selalu muncul dibenak kepalaku. Tapi bukan selalu sih terkadang saja menyerangku disela-sela luangnya waktu. Aku nggak begitu anti juga sih orangnya. Sebab dapat menjelma kapan dan dimanapun kita berada. Maka sah-sah saja kita terima Kata-kata yang menyatakan bahwa biarlah kenangan berjalan toh nanti bakal terhempaskan oleh waktu dengan sendirinya. Bagiku semua layak terjangkit kenangan kapan pun dan tidak bisa dilupakan. Mana ada peristiwa yang memang istimewa menurut kita bisa berlalu begitu saja seperti tiupan angin pada debu. Barangkali benar mustahil rasanya sebuah kenangan bisa dihilangkan dari pikiran manusia. yang ada hanya diabaikan. Manusia hanya mencari pelarian saja dengan menyibukkan pada hal yang bisa melupakan. Ya. Lupa hanya sebentar. Sebegitu lekas terluka lagi.
ã…¤Namun aku tak sedikitpun ada rasa dengki atau benci kepadamu. Aku tak mempunyai hak untuk hal demikian. Tak seharusnya diriku membencikan sesuatu yang memang mempesona untuk dipandang dari sudut kejauhan. Kamu juga layak untuk bahagia. Bahagia dengan yang lebih siap dibandingkan aku yang masih saja gelap atas masa depan.
ã…¤Sudah mulai sekarang tak usah merisaukan keadaanku. Aku akan selalu mengenang jasa baikmu kok. Tak perlu kiranya aku mengutuk dirimu untuk berada pada jurang penyesalan. Ini bukan siapa yang bersalah dan yang benar. Semua akan baik-baik saja. Selama kamu berada dalam naungan kebahagiaan. Aku sudah senang. Kamu tidak usah lagi menunggu balasan pesan setiap malam sampai tidur terpulas. Kini sudah ada yang siap menemanimu dikala kamu merasakan kesunyian. Mengajak berbincang pikiran dikala sendirian. Kuharapkan kamu bahagia dan baik-baik saja disana. Terlepas aku? Haha. Aku hanya bisa mengenangnya dan mengingatnya. Entah mengingat untuk diingat, atau mengingat untuk dilupakan. Rasanya terlalu berat untuk dilupakan karena hal itu memang benar istimewa bagiku. Jika hidup adalah sebuah pilihan, Jadi tak apa kan aku pilih yang pertama? Pada akhirnya aku pun sadar bahwa sesuatu peluang mendapatkanmu tak seagung awal pertama kali mengenalmu. Namun pilihanku hanya sebatas mengenang untuk memperbaiki bukan untuk menyesali. Biarlah titipan puisi ini terus kusisipkan dalam almari. Sampai saatnya aku benar-benar bisa merangkai sebuah sajak menjadi kesatuan karya puisi indah seperti yang kamu berikan kepadaku tempo dulu.
22/07/20
1 Komentar
Ahhh sa ae lu tong
BalasHapus