Advertisement

Main Ad

Jembatan Mongso Ngarep


ㅤㅤDi usia yang berinjak tak remaja lagi Aku mencoba cari suasana baru, dikala dunia sudah tak lagi pantas dijuluki sebutan masih waras, masih bebas, masih lama, masih segar, masih asri, masih longgar yakni maknanya dunia sudah mulai tak bisa bersahabat lagi dengan kita. Aku ingin pikiran terbatasku terhiasi dan menyumbangkan sebagian waktuku untuk mendengarkan suka duka karibku menjalani drama hidup ini. Ku putuskan untuk sedikit bertukar cerita dengan karibku. Pun tak terlupakan sebagai media gesah yakni secangkir kopi hitam disertai pahit asam yang begitu pekat. Kita bertukar pengalaman dan wawasan seputar apa saja, mulai dari Agama, ekonomi, sosial, politik, dan kehidupan perih kita.

ㅤㅤKaribku memulai majelis gesah pertama itu tentang Agama. “Orang itu sebenarnya, bisa berada dititik jenuh. Nah dalam kondisi inilah seharusnya berikan stimulus tentang siraman Agama sebelum pembahasan secara gembleng. Maindset lama yang tertanamkan yakni acuan baik tidaknya seorang hamba dilihat dari seberapa sering ia pergi ke Masjid. Padahal seandaianya kita lihat spion sebelah, masih ada seorang hamba di usia yang masih terbilang lajang yang menjauhi cara haram dengan banting tulang, menanggung beban keluarganya demi perkara yang jelas kehalalannya.’’ Ucap karibku. Aku pun terdiam seribu bahasa dengan keterbasan fikiranku. Segala opini yang membangun pribadi untuk lebih baik lagi terkeluarkan semuanya. Memang benar jika kita memandang suatu kebenaran dengan objektif maka tak memandang dari siapapun yang mengucapkan-bahkan orang gila pun jika yang diucapkan sebuah kebenaran terimalah.

ㅤㅤTenggorokan sudah mulai kering, aku pun tak lupa dengan kopi yang telah lama ku diamkan di depanku itu, akupun menyeruputnya. Lalu kita melanjutkan gesah lagi. Manusia diberikan kebebasan dalam berkehendak tapi terbatas dalam kemampuan. Tuhan memberikan sebuah cobaan kepada ummatnya sesuai dengan kemampuannya dan tujuannya, hanya untuk memberikan sebuah peringatan ataupun nasehat yang tersirat agar seorang hamba itu tidak bergantung pada manusia atau juga bisa menggembleng mental hamba agar menjadi seorang hamba yang teguh nan kokoh. Semua itu tergantung bagaimana ia menyikapinya. Jika cobaan itu ia sikapi sebagai nasehat untuk mencari jalan rahasia yang tersirat dari Tuhan maka hasilnyapun akan positif. Namun sebaliknya, jika cobaan dijadikan sebagai pelarian belaka maka tak segan-segan Tuhan memberikan apa yang ia dugakan.

ㅤㅤMirisnya dalam menghadapi setiap terpaan cobaan yang diberikan oleh Tuhan, sorang hamba yang menyikapi kearah negatif bisa-bisa membuat sebuah penolakan dalam dirinya dengan menjerumuskan dirinya kedalam jurang nestapa sebagai hasil dari capaian sorang hamba tak sesuai dengan harapan. Ia dapat saja menyalahi aturan Tuhan bahkan bisa menyalahkan Tuhan dan berfikiran ‘Tuhan sangat tidak adil’. Sebab mereka belum yakin bahwa meskipun kita menjalankan ataupun tidak menjalankan atutan Tuhan, kondisi yang dirasakan tetaplah sama. Andaikata mereka mau bersabar dan menunggu pastilah menemukan sebuah jalan. Karena mustahil ada penyakit tak ada obat, ada masalah tak ada jalan tengah, ada api tak ada asap dan selarasnya. Iya mungkin aku juga menghormati perasaan yang terombang-ambing itu tapi tidak seharusnya kita mengatakan seperti itu.

ㅤㅤTuhan berkehendak penuh atas segala hal, Tuhan lebih tahu dari sekedar memberi tahu, dan Tuhan berbeda dengan ciptaanNya. Disanalah ada sebuah hikmah yang tersembunyi layaknya mutiara dibawah laut. Sikap kita seyogyanya terus mencari mutiara tersebut agar menjadi hamba yang benar-benar bertafakkur dan bersyukur. 

ㅤㅤSeandainya jikalau Tuhan tidak memberikan ia sebuah cobaan di dunia ini, mungkin ia tidak sekuat mental dan sikapnya sekarang. Layaknya seseorang yang mengawali bekal pada dirinya mulai sejak dini dengan berenang maka tidak akan merasa kesulitan jika sewaktu-waktu banjir melandanya. Namun berbeda dengan seseorang yang sama sekali tidak ada bekal dalam dirinya. Jika banjir mendatanginya ia mau tidak mau harus mampu berenang supaya tidak tenggelam. Itulah sebagian sisi keras dari permainan kehidupan di Dunia~.

Posting Komentar

0 Komentar